Selasa, 02 Februari 2016

Lisa: PINTU YANG SELALU TERBUKA

02/02/2016, 18:53 - Lisa Menulis: PINTU YANG SELALU TERBUKA

Itulah pintu belakang rumah orang tua Tinar di Padang. Pintu itu berupa pintu kayu berwarna biru dengan aksen bis berwarna merah. Pintu itu kokoh, agak berat dan cukup lebar, yaitu satu meter. Kusen pintu itu langsung berdampingan dengan dengan jendela kaca yang lumayan lebar juga.

Sepanjang siang, pintu tersebut selalu terbuka. Malah mulai terbukanya sebelum  shubuh tiba, yaitu ketika Papa Tinar perlu menghidupkan pompa air yang sakelarnya terletak di luar rumah. Pintu ditutup mulai magrib, ketika nyamuk mulai terdengar berdengung riang, di udara Padang yang panas. Atau ketika siang, hujan sangat lebat, pintu ditutup untuk mencegah tampias hujan masuk ke rumah.

Area di luar pintu  adalah halaman belakang yang masih cukup luas. Di halaman belakang itu terdapat tempat jemuran yang cukup banyak, tempat cuci umum untuk para pengontrak rumah, beberapa tanaman perdu, lahan parkir motor, dan dapur umum untuk anak kos. Di halaman belakang itu juga terdapat satu kursi kayu butut tempat Papa Tinar sering duduk bersosialita dengan para pengontrak rumahnya atau duduk membaca koran. Halaman belakang itu dibiarkan tak beratap banyak, sehingga panas pagi hari masuk leluasa melalui pintu, juga melalui jendela di sampingnya.

Tinar lebih banyak berada di dalam rumah, jika dia sedang di rumah ayahnya. "Panas banget di luar" adalah alasan utama Tinar jika siang menyengat. Walau Tinar lebih banyak di dalam rumah, pintu yang terbuka dan jendela kaca di sebelah pintu tetap mampu menghadirkan suasa luar itu ke dalam rumah. "Hadirkan alam ke ruang keluarga rumah Anda" adalah iklan yang sesuai untuk suasana di rumah itu.

Setelah masuk lewat ambang pintu, ada sedikit ruang, sekitar tiga meteran, sebelum sampai ke meja makan. Di salah satu sisi meja makan itu terdapat sebuah kursi yang justru diatur tidak menghadap meja makan. Kursi itu diletakkan menyisi meja makan sehingga siapa pun yang duduk di situ bisa melihat ke pintu dan tentu saja ke halaman belakang. Di kursi itulah Tinar sering menikmati suasana alam di halaman belakang rumah.

Di antara gulir waktu, pagi adalah waktu yang paling disukai Tinar untuk duduk di kursi itu. Jika dia agak pagi duduk di situ, sinar mentari akan menghangatkan badannya. Suasana hangat mentari itu diperlengkapi dengan ritual minum secangkir teh panas di meja makan. Biasanya Ibu memasak ubi jalar goreng sebagai teman teh panas

"Papa sudah makan goreng?" sapa Tinar pada Papanya yang sedang bersenandung duduk tak jauh dari pintu terbuka itu. Hangat pagi, melalui pintu yang selalu terbuka itu, mampu mengakurkan anak beranak, yang dalam sejarah mereka,  sering berseteru.

Bandung, 02 02 2016
Lisa Tinaria

02/02/2016, 19:24 - Cak NAWI: @ Uni Lisa : Woowwww .Elok nian nih carito nyo...🌹💐🌷🌻👍👍👍

Tidak ada komentar:

Posting Komentar