*Ketua RT*
"Assalamu'alaikum ... dek ..., disuruh pulang sama Bapak," suara Mas Agus dari seberang telephon.
"Iya Mas, nanti aku ijin dulu sama Bu Dewi. Oh iya, tapi Mas jemput aku ya?!" Ujarku
"Iya, alamatnya di sms aja," jawab Mas.
"Nggih Mas, nanti aku sms. Udah dulu ya Mas. Assalamu'alaikum ...," kataku
"Iya, jaga kesehatan ... Wa'alaikumussalam warahmatullah ..," sahut Mas Agus.
Selang beberapa hari kemudian setelah mendapat ijin dari Bu Dewi, saudara jauh sekaligus Bosku di PT Penyaluran TKW di Bekasi, aku pun dijemput Mas Agus yang berada di Cisalak. Mas Agus adalah pedagang asongan.
Usai dijemput Mas Agus, aku mampir dulu di cisalak, aku menginap di kontrakan Mba Ningsih, kakak perempuanku yang juga ngontrak di sana, karena ikut suaminya yang bekerja di bengkel milik kakaknya di bogor. Sebenarnya malam itu juga aku dan Mas Agus sudah berniat langsung pulang ke cirebon, tapi Bis yang kami tunggu tidak datang hingga aku pun menginap di kontrakan Mba Ningsih.
"Gus, yang pulang siapa aja?" Tanya Mba pada Mas Agus.
"Cuma De Atun aja. Aku pulang juga sih Mba, tapikan gak nyoblos sudah beda wilayah," jawab Mas Agus.
"Nyoblos?" Tanyaku kaget campur penasaran
"Nyoblos pemilihan ketua RT de, Bapak suruh kamu pulangkan buat nyoblos hehehe" jawab Mas Agus sambil ketawa mengikik.
"Oh ...," aku menggaguk tanda mengerti, aku memang belum tahu dan tidak tanya sebelumnya kenapa aku disuruh pulang, ternyata suruh nyoblos. Sebenarnya Bapak menyuruh Mba Ningsih dan Mas Anton juga untuk pulang, tapi Mba Ningsih tidak bisa pulang karena tidak mendapat ijin suami, juga Mas Anton tidak pulang karena baru saja berangkat ke jakarta. Capek katanya kalo bolak-balik.
Usai ba'da subuh, aku dan Mas Agus pun berangkat menuju Cirebon dengan menaiki Bis jurusan Jakarta-Kuningan.
Sampailah kami di Cibogo daerah sebelum Kuningan. Kami menunggu Bapak yang memang sudah kami telepon untuk menjemput. Bapak pun datang aku pulang dengan Bapak, Mas Agus pulang baik ojek. Kami berpisah diperisimpangan, sekarang rumah Bapak dengan Mas Agus sudah berbeda semenjak Mas Agus menikah.
Bapak memberhentikan laju motornya, kami berhenti di depan sebuah rumah yang dikrumuni banyak warga, ternyata itu adalah rumah calon ketua RT pilihan kami. Bapak masuk rumah itu dan aku menunggu di depan, di samping motor. Lekas Bapak keluar, Bapak mengajaku pergi ke balai desa untuk mengisi formulir kata Bapak. Aku tidak mengerti sebetulnya, karena ini kali pertamanya aku ikut menyoblos untuk pemlihan umam. Usai isi formulir dan tanda tangan di balai desa, kami kembali lagi ke rumah calon RT pilihan kami. Entah apa yang dikerjakan Bapak di dalam, lama sekali ... kakiku sampai pegal menunggu di luar rumah.
Aku melirik tas ranselku yang berada menggantung di stir motor, ingin rasanya aku pulang duluan ke rumah, aku lelah sekali, tapi aku takut durhaka, tidak sopan pergi tanpa pamit.
"Ah ... rumit sekali ...," fikirku waktu itu.
"Bismillah ... ampun ya Allah, semoga Bapak tidak marah aku pulang duluan," aku pun bergegas pulang dengan berjalan kaki membawa tas ranselku yang tidak berat. Perjalanan menuju rumah tidak dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Aku biasa menempuhnya saat sekolah dulu.
Sesampainya di rumah.
"Assalamu'alaikum .... Bu..," aku salam takzim pada Ibu yang langsung menyapa di depan pintu.
"Sendirian?" Tanya Ibu
"Iya, Bapak masih di sana Bu," jawabku. Aku langsung menuju kamar beres-beres sebentar dan bersih-besih badan. Pegal dan penat akibat seharian di Bis sudah berangsur hilang.
"Bu, nanti aku nyoblos nomor berapa?" Tanyaku pada Ibu siang itu.
"No. 2 nduk ... Ini calon Ketua RT yang in syaa Allah bisa menjadi pemimpin yang bisa mengayomi. Orangnya arif dan bijaksana, sopan, sholeh dan mudah-mudahan bisa bertanggung jawab atas apa sudah diamanahkan untuknya,"
"Oh.. nggih Bu, sama Bapak deket ya Bu?" Tanyaku lagi.
"Iya, masih ada sodaraan sama Bapakmu. Kemaren itu tetangga sebelah mau dukunin katanya biar bisa kepilih, tapi Pak Alif sama sekali nda mau. Nah, pemimpin yang seperti ini yang harusnya dipilih. Jujur dan taat," jalas Ibu. Aku mengangguk tanda mengiyakan dan mengerti.
"Assalamu'alaikum ...," suara Bapak dari luar.
"Aduh ... pie iki? Bapak marah nda ya?" Fikirku waktu itu, karena aku pulang nda bilang-bilang, aku khawatir Bapak jadi nyariin.
"Atun ada Bu?" Suara Bapak makin dekat.
"Wa'alaikumussalam ada Pak ..," jawab Ibu.
"Alhamdulillah ... syukur kalo sudah nyampe rumah mah ... maafkan Bapak ya nduk .. tadi Bapak keasikan ngobrol, jadi lupa," tutur Bapak.
"Iya, nda apa-apa Pak," jawabku. Alhamdulillah lega rasanya.
Tiba saatnya pemilihan umam. bapak, Ibu dan aku pergi ke balai desa, bersama adik-adikku. Saat itu balai seperti disulap badai yang tadinya sepi berubah seperti pasar. Banyak orang lalu lalang dan banyak sekali para pedagang, dari jajanan, mie ayam, bakso, nasi belut, mainan anak-anak, ah .. pokoknya banyak dan rame ada penjual pakaian juga.
Aku berbaris di belakang Ibu, mengantri giliran untuk menyoblos.
"Bu .., Mba Ati telephon," kataku pada Ibu sesaat setelah menerima telephon dari Mba Ati, kakak pertamaku yang tinggal di bogor bersama suaminya.
"Iya," jawab Ibu sambil mengangkat telephon.
Tiba-tiba aku merasakan bau sesuatu, sepertinya Ibuku sedang berpuasa.
"Ini nduk ..," Ibu menyerahkan hpku. Aku menerimanya.
"Ibu lagi puasa?" Tanyaku
"Iya, yuk .. kita sambil terus berdo'a semoga Pak Alif yang terpilih," jawab Ibu.
Ma syaa Allah, sampai sebegitunya ibuku mendukung Pak Alif. Aku jadi penasaran bagaimana sosok yang dikatakan arif dan bijaksana itu. Dan akupun bershalwat kepada Nabi sepanjang menunggu giliran. Sambil berharap semoga do'a Ibu terkabul.
Tibalah giliranku. Aku melihat dua pasang suami-isteri duduk di kursi di atas panggung bak raja dan permaisurinya. Yang satu pasang kellibatannya adem sekali wajahnya teduh seperti diberi cahaya air wudhu. Aku mulai masuk ruang untuk menyoblos. Ada beberapa ruang di sana berupa beberapa kotak kecil, cukup untuk satu orang, dan aku masuk di salah satu kotak itu. Aku langsung tertuju pada no.2 Pak Alif. Dan iya benar saja. No. 2 itu adalah pasangan yang aku lihat wajahnya teduh tadi.
Ah ... acara yang cukup melelahkan, karena mengantri begitu lama. Kami pun sempat jalan-jalan di sekitar balai sekedar untuk membeli mie ayam dan pakaian. Usai itu kamipun pulang.
Aku pulang duluan bersama adik. Beberapa jam kemudian Bapak dan Ibu pulang membawa sebuah kabar tentang perolehan suara untuk pemilihan ketua RT ini.
"Sudah ada hasil perolehannya Pak?" Tanyaku
"Iya, Alhamdulillah ... Pak Alif menang," jawab Bapak sumringah.
"Alhamdulillah ....," jawab kami yang di rumah serempak.
Aku tidak tahu, apakah kepulanganku atau setidaknya suaraku dalam ikut menyoblos apakah ada manfaatnya, atau aku tak pulangpun hasilnya akan tetap lebih banyak Pak Alif, ah ... entahlah ... yang jelas aku bersyukur sudah bisa pulang dan melihat Ibu, Bapak dan adik-adik tersenyum.
Selesai.
Ade, Taiwan, 22 Nov 2016
Blog ini adalah wadah untuk belajar menulis dengan cara berlatih menulis minimal 30 menit setiap hari
Senin, 12 Desember 2016
Aturan Penilaian Lomba Menulis 1216
Aturan Penilaian Lomba Menulis 1216
1) Setiap tulisan anggota yang mengerjakan tugas akan mendapatkan nilai paling sedikit 5 bintang
πππππ dan paling banyak ππππππππππ(sepuluh bintang) dari saya.
2) Anggota lain juga dianjurkan memberi appresiasi ke tulisan yang ada dengan memberikan bintang maksimal 5 bintang πππππ disertai ulasan minimal 1 kalimat atau lebih.
3) Orang yang memberi ulasan dan apresiasi juga akan dapat bintang dari saya sebanyak
(2 bintang)
4) untuk tulisan dengan tema yang berbeda juga bisa mendapatkan bintang kecuali point ke 1) dari saya maksimal 5 bintang πsaja
5) Pemenangnya adalah yang memiliki jumlah kumulatif πterbanyak (maksimal 3 orang)
6) Aturan lain akan ditambahkan jika dianggap diperlukan.
Misalkan Hairul menulis ttg "Pak RT" maka akan mendapatkan antara 5 - 10 bintang.
Kemudian Lisa memberi apresiasi 5 bintang untuk Hairul, maka jumlah nilai Hairul tugas pertama adalah 15 bintag, dan Lisa walaupun belum menulis mendapatkan 2π
Begitu seterusnya jika ada teman lain yang mengapresiasi tulisan Hairul, maka nilainya terus bertumbuh.
21/11/2016, 21:16
Benny Humusta: Apakah cukup jelas ? Kalau ada yang mau ditanyakan silahkan...
Eka Yuli: Jelas Sifu Benn...
Ade : Iya jelas Kang Ben ππ»ππ»
Lisa Tinaria : Jelas, Kang Benny
Avianty : Okey, paham Kang Benny
1) Setiap tulisan anggota yang mengerjakan tugas akan mendapatkan nilai paling sedikit 5 bintang
πππππ dan paling banyak ππππππππππ(sepuluh bintang) dari saya.
2) Anggota lain juga dianjurkan memberi appresiasi ke tulisan yang ada dengan memberikan bintang maksimal 5 bintang πππππ disertai ulasan minimal 1 kalimat atau lebih.
3) Orang yang memberi ulasan dan apresiasi juga akan dapat bintang dari saya sebanyak
(2 bintang)
4) untuk tulisan dengan tema yang berbeda juga bisa mendapatkan bintang kecuali point ke 1) dari saya maksimal 5 bintang πsaja
5) Pemenangnya adalah yang memiliki jumlah kumulatif πterbanyak (maksimal 3 orang)
6) Aturan lain akan ditambahkan jika dianggap diperlukan.
Misalkan Hairul menulis ttg "Pak RT" maka akan mendapatkan antara 5 - 10 bintang.
Kemudian Lisa memberi apresiasi 5 bintang untuk Hairul, maka jumlah nilai Hairul tugas pertama adalah 15 bintag, dan Lisa walaupun belum menulis mendapatkan 2π
Begitu seterusnya jika ada teman lain yang mengapresiasi tulisan Hairul, maka nilainya terus bertumbuh.
21/11/2016, 21:16
Benny Humusta: Apakah cukup jelas ? Kalau ada yang mau ditanyakan silahkan...
Eka Yuli: Jelas Sifu Benn...
Ade : Iya jelas Kang Ben ππ»ππ»
Lisa Tinaria : Jelas, Kang Benny
Avianty : Okey, paham Kang Benny
Hairul Saleh: *Satu Hari Satu Huruf*
*Satu Hari Satu Huruf*
Sigit bukan lulusan pesantren. Ia merasa wajar jika tidak paham bahasa Arab yang menjadi bahasa Al Quran kitab sucinya sebagai muslim. Belajar mulai dari TK sampai menjadi sarjana tidak membekalinya dasar bahasa Arab yang memadai. Kadang ia berpikir juga kenapa sekolah berlama-lama yang katanya untuk bekal hidup tapi tidak diajarkan pemahaman Al Quran yang menjadi pedoman hidup.
Keinginan Sigit untuk dekat dengan Al Quran terbuka ketika teman-teman kantor ikut dan membicarakan tentang grup One Day One Jus yang biasa disingkat ODOJ. Karena membaca satu juz Al Quran selama satu hari membutuhkan waktu yang lama akhirnya Sigit tidak jadi ikut grup ODOJ.
Kesempatan kedua mendekatkannya dengan Quran datang ketika temannya menawarkan ikut grup Komunitas Tadabbur Al Quran (KontaQ). Grup ini memang lebih ringan hanya membaca satu halaman Al Quran sehari. Awalnya Sigit dapat mengikutinya tetapi lama kelamaan ia sering menunda dan merasa tidak sempat lagi membaca sehalaman Al Quran sehari secara rutin. Akhirnya ia dikeluarkan dari grup karena sering tidak setoran.
Takut tidak kuat mengikuti grup menyebabkan lama sekali Sigit akhirnya mengikuti tawaran Sarah anaknya untuk ikut grup Hafidz On The Street (HOTS). Di grup ini satu hari menyetorkan satu ayat hafalan Quran. Terdengarnya ringan: seayat sehari, apalagi Ar Rohman adalah surat pertama yang dihafal. Pendek-pendek ayatnya.
Hari pertama ayat pertama hafalannya: Ar Rohman. Selesai. Hari kedua ayat kedua: 'allamal Quran. Selesai. Wah ringan sekali, sangat ringan. Setelah belasan hari materi hafalan masih tetap ringan. Yang dirasa berat oleh Sigit adalah beban kerja dari kantor. Karena sering pergi pagi dan pulang malam akhirnya beberapa hari Sigit tidak menyetorkan hafalan. Ia mengetahuinya karena admin grup HOTS mengingatkannya belum setoran beberapa hari.
Kelelahan kerja telah membunuh kemampuan Sigit mengerjakan yang lain. Ia sekarang jarang ikut pengajian di masjid, jarang berkumpul dengan tetangga di gangnya, bahkan jarang bercengkerama dengan keluarganya. Kesibukan kerja membuat setoran hafalannya tidak lancar.
"Gimana lancar hafalannya, Pa?" tanya Sarah anaknya yang lebih dulu ikut HOTS.
"Alhamdulillah, masih bisa setoran walau telat," jawab Sigit menyembunyikan ketidaklancarannya setoran.
"Kalau sibuk, ada yang lebih ringan lagi hafalannya," Sarah menimpali.
"Apa? Boleh nih," Sigit cepat menanggapi.
"ODOW. One Day One Word," jawab Sarah sambil senyum.
"Bercanda kamu," balas Sigit.
"Eh ada lagi Pa. Yang ini sih serius banget buat yang super sibuk seperti Papa," lanjut Sarah nampak serius
"Apa?" tanya Sigit jadi ikut serius.
"ODOF. One Day One Font." balas Sarah.
"What?" tanya Sigit lagi.
"SHSH," balas Sarah.
"Apa?"
"Satu Hari Satu Huruf."
Jleb, Sigit tertusuk hatinya.
Sigit bukan lulusan pesantren. Ia merasa wajar jika tidak paham bahasa Arab yang menjadi bahasa Al Quran kitab sucinya sebagai muslim. Belajar mulai dari TK sampai menjadi sarjana tidak membekalinya dasar bahasa Arab yang memadai. Kadang ia berpikir juga kenapa sekolah berlama-lama yang katanya untuk bekal hidup tapi tidak diajarkan pemahaman Al Quran yang menjadi pedoman hidup.
Keinginan Sigit untuk dekat dengan Al Quran terbuka ketika teman-teman kantor ikut dan membicarakan tentang grup One Day One Jus yang biasa disingkat ODOJ. Karena membaca satu juz Al Quran selama satu hari membutuhkan waktu yang lama akhirnya Sigit tidak jadi ikut grup ODOJ.
Kesempatan kedua mendekatkannya dengan Quran datang ketika temannya menawarkan ikut grup Komunitas Tadabbur Al Quran (KontaQ). Grup ini memang lebih ringan hanya membaca satu halaman Al Quran sehari. Awalnya Sigit dapat mengikutinya tetapi lama kelamaan ia sering menunda dan merasa tidak sempat lagi membaca sehalaman Al Quran sehari secara rutin. Akhirnya ia dikeluarkan dari grup karena sering tidak setoran.
Takut tidak kuat mengikuti grup menyebabkan lama sekali Sigit akhirnya mengikuti tawaran Sarah anaknya untuk ikut grup Hafidz On The Street (HOTS). Di grup ini satu hari menyetorkan satu ayat hafalan Quran. Terdengarnya ringan: seayat sehari, apalagi Ar Rohman adalah surat pertama yang dihafal. Pendek-pendek ayatnya.
Hari pertama ayat pertama hafalannya: Ar Rohman. Selesai. Hari kedua ayat kedua: 'allamal Quran. Selesai. Wah ringan sekali, sangat ringan. Setelah belasan hari materi hafalan masih tetap ringan. Yang dirasa berat oleh Sigit adalah beban kerja dari kantor. Karena sering pergi pagi dan pulang malam akhirnya beberapa hari Sigit tidak menyetorkan hafalan. Ia mengetahuinya karena admin grup HOTS mengingatkannya belum setoran beberapa hari.
Kelelahan kerja telah membunuh kemampuan Sigit mengerjakan yang lain. Ia sekarang jarang ikut pengajian di masjid, jarang berkumpul dengan tetangga di gangnya, bahkan jarang bercengkerama dengan keluarganya. Kesibukan kerja membuat setoran hafalannya tidak lancar.
"Gimana lancar hafalannya, Pa?" tanya Sarah anaknya yang lebih dulu ikut HOTS.
"Alhamdulillah, masih bisa setoran walau telat," jawab Sigit menyembunyikan ketidaklancarannya setoran.
"Kalau sibuk, ada yang lebih ringan lagi hafalannya," Sarah menimpali.
"Apa? Boleh nih," Sigit cepat menanggapi.
"ODOW. One Day One Word," jawab Sarah sambil senyum.
"Bercanda kamu," balas Sigit.
"Eh ada lagi Pa. Yang ini sih serius banget buat yang super sibuk seperti Papa," lanjut Sarah nampak serius
"Apa?" tanya Sigit jadi ikut serius.
"ODOF. One Day One Font." balas Sarah.
"What?" tanya Sigit lagi.
"SHSH," balas Sarah.
"Apa?"
"Satu Hari Satu Huruf."
Jleb, Sigit tertusuk hatinya.
Hairuk, Saleh, 21/11/2016
Tugas ke 1 untuk lomba Menulis Desember 2016
Tugas ke 1 untuk lomba
Saya ingin semua anggota belajar menulis dengan cara bertutur atau bercerita. Tema pertama kita adalah "Ketua RT " .
Silahkan membuat tulisan, bayangkan anda sedang bercerita tentang " Ketua RT" . Apa saja bisa anda tuturkan, pengalaman nyata atau khayalan boleh.
Tugas ini bisa diselesaikan kapan saja sampai waktu penilaiannya terakhir nanti di akhir desember.
Jadi ini adalah tugas dengan masa penulis an perpanjang. Besok akan ada tugas baru yang masa penilaiannya lebih pendek karena hari telah berkurang.
Dengan cara di atas maka jika ada kemauan dan tekad yang kuat seharusnya setiap anggota mempunyai kesempatan untuk menyelesaikan semua tugas yang diberikan.
Pesan saya, walaupun waktunya terlihat panjang, segeralah buat dan selesai kan tugas nya, jangan ditunda2, karena mengerjakan beberapa tulisan dalam satu hari tidak mudah..
21/11/2016, 18:45 - Ade : ππ»ππ»✊π»✊π» In syaa Allah.
21/11/2016, 19:34 - Hairul Saleh: Boleh cerpen atau model apa saja, Bang Ben?
21/11/2016, 19:35 - Benny : Iya untuk tugas pertama adalah bentuk cerita bukan puisi ya ..
Saya ingin semua anggota belajar menulis dengan cara bertutur atau bercerita. Tema pertama kita adalah "Ketua RT " .
Silahkan membuat tulisan, bayangkan anda sedang bercerita tentang " Ketua RT" . Apa saja bisa anda tuturkan, pengalaman nyata atau khayalan boleh.
Tugas ini bisa diselesaikan kapan saja sampai waktu penilaiannya terakhir nanti di akhir desember.
Jadi ini adalah tugas dengan masa penulis an perpanjang. Besok akan ada tugas baru yang masa penilaiannya lebih pendek karena hari telah berkurang.
Dengan cara di atas maka jika ada kemauan dan tekad yang kuat seharusnya setiap anggota mempunyai kesempatan untuk menyelesaikan semua tugas yang diberikan.
Pesan saya, walaupun waktunya terlihat panjang, segeralah buat dan selesai kan tugas nya, jangan ditunda2, karena mengerjakan beberapa tulisan dalam satu hari tidak mudah..
21/11/2016, 18:45 - Ade : ππ»ππ»✊π»✊π» In syaa Allah.
21/11/2016, 19:34 - Hairul Saleh: Boleh cerpen atau model apa saja, Bang Ben?
21/11/2016, 19:35 - Benny : Iya untuk tugas pertama adalah bentuk cerita bukan puisi ya ..
Take and Give
Take and Give
Take and Give adalah ungkapan untuk saling berbagi dalam bahasa Inggris, dimana seseorang jika ingin mendapatkan suatu manfaat maka sebaiknya juga mampu memberikan manfaat kepada yang lainnya. Dalam pelajaran biologi kita dulu mengenal simbiosis mutualisme yaitu kehidupan bersama yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak yang memiliki hubungan untuk mempertahankan kehidupannya.
Dalam belajar menulis prinsip tersebut juga berlaku sama. Jika kita ingin mendapatkan manfaat dari belajar menulis maka kita harus mau melakukan 2 hal tersebut.
Pertama kita mau memberi kepada sesama anggota grup penulis. Pengertian memberi sangatlah luas, baik bersifat sikap maupun tindakan. Kita memberikan respect yang sama kepada semua anggota grup ini, kita bisa memberikan perhatian dalam bentuk apresiasi ketika teman lain telah memposting tulisannya dan juga kita memberikan atau posting tulisan kita sendiri sebagai bagian latihan menulis yang nyata.
Maka sebagai timbal baliknya kita juga akan menerima kebaikan dari anggota grup yang lain. Kita saling menghormati apapun status sosial, apapun pekerjaan yang kita miliki, karena kita percaya tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada manusia yang selalu lebih baik dari orang lain.
Setiap posisi, setiap kedudukan akan menjadi bermanfaat ketika kita mampu berbuat baik untuk diri sendiri ataupun keluarga dan lingkungan tanpa merugikan orang lain.
Ketika kita menulis kita akan mendapatkan manfaat langsung tanpa perlu menunggu apakah ada orang lain yang memberikan apresiasi atau tidak.
Kita sudah berani mengungkapkan ide yang ada dalam pikiran kita, dengan latihan ini lambat laun logika berfikir kita pasti akan lebih baik dibandingkan orang yang jarang berlatih menulis.
Termasuk latihan memperkenalkan diri kembali ini adalah bagian dimana kita bisa membuat pernyataan apa yang kita ingin peroleh dengan menulis, juga berbagi pengalaman apa manfaat yang sudah kita rasakan dengan menulis.
Walaupun baru beberapa orang yang memperkenalkan diri kembali, kita sudah mampu melihat bahwa manfaat menulis bisa berupa ketenangan, kebahagiaan, merupakan jalan keluar ketika menghadapi masalah dan juga keuntungan dalam bentuk materi atau uang.
Jadi harapan saya jangan ragu untuk terus berlatih menulis dan kirimkan atau posting tulisannya di grup ini, sejelek apapun tulisan anda itu pasti mempunyai nilai yang jauh lebih baik dibandingkan orang yang tidak pernah menulis.
Kita mulai setiap latihan kita dengan niat bahwa latihan ini merupakan bagian dari ibadah, kita jalani prosesnya dengan rajin, dengan tekun dan lakukan pula dengan rasa gembira dan bahagia
Jkt, 131216 Humusta
Take and Give adalah ungkapan untuk saling berbagi dalam bahasa Inggris, dimana seseorang jika ingin mendapatkan suatu manfaat maka sebaiknya juga mampu memberikan manfaat kepada yang lainnya. Dalam pelajaran biologi kita dulu mengenal simbiosis mutualisme yaitu kehidupan bersama yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak yang memiliki hubungan untuk mempertahankan kehidupannya.
Dalam belajar menulis prinsip tersebut juga berlaku sama. Jika kita ingin mendapatkan manfaat dari belajar menulis maka kita harus mau melakukan 2 hal tersebut.
Pertama kita mau memberi kepada sesama anggota grup penulis. Pengertian memberi sangatlah luas, baik bersifat sikap maupun tindakan. Kita memberikan respect yang sama kepada semua anggota grup ini, kita bisa memberikan perhatian dalam bentuk apresiasi ketika teman lain telah memposting tulisannya dan juga kita memberikan atau posting tulisan kita sendiri sebagai bagian latihan menulis yang nyata.
Maka sebagai timbal baliknya kita juga akan menerima kebaikan dari anggota grup yang lain. Kita saling menghormati apapun status sosial, apapun pekerjaan yang kita miliki, karena kita percaya tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada manusia yang selalu lebih baik dari orang lain.
Setiap posisi, setiap kedudukan akan menjadi bermanfaat ketika kita mampu berbuat baik untuk diri sendiri ataupun keluarga dan lingkungan tanpa merugikan orang lain.
Ketika kita menulis kita akan mendapatkan manfaat langsung tanpa perlu menunggu apakah ada orang lain yang memberikan apresiasi atau tidak.
Kita sudah berani mengungkapkan ide yang ada dalam pikiran kita, dengan latihan ini lambat laun logika berfikir kita pasti akan lebih baik dibandingkan orang yang jarang berlatih menulis.
Termasuk latihan memperkenalkan diri kembali ini adalah bagian dimana kita bisa membuat pernyataan apa yang kita ingin peroleh dengan menulis, juga berbagi pengalaman apa manfaat yang sudah kita rasakan dengan menulis.
Walaupun baru beberapa orang yang memperkenalkan diri kembali, kita sudah mampu melihat bahwa manfaat menulis bisa berupa ketenangan, kebahagiaan, merupakan jalan keluar ketika menghadapi masalah dan juga keuntungan dalam bentuk materi atau uang.
Jadi harapan saya jangan ragu untuk terus berlatih menulis dan kirimkan atau posting tulisannya di grup ini, sejelek apapun tulisan anda itu pasti mempunyai nilai yang jauh lebih baik dibandingkan orang yang tidak pernah menulis.
Kita mulai setiap latihan kita dengan niat bahwa latihan ini merupakan bagian dari ibadah, kita jalani prosesnya dengan rajin, dengan tekun dan lakukan pula dengan rasa gembira dan bahagia
Jkt, 131216 Humusta
Langganan:
Postingan (Atom)