Untuk Dinda Bermata Jeli
Kanda:
Dari Jakarta pulang ke kampung
Tak tahan hidup di ibu kota
Hati siapa tidak 'kan bingung
Dinda merajuk tak mau bicara
Dinda:
Tak tahan hidup di ibu kota
Eloklah pulang ke ranah Minang
Bukan Dinda tak mau berkata
Tak tahu apa hendak dikarang
Kanda:
Eloklah pulang ke ranah Minang
Mambangkik batang nan tarandam(1)
Tak usah bingung hendak mengarang
Ungkapkan saja jangan dipendam
Dinda:
Mambangkik batang nan tarandam
Harapan untuk para perantau
Memang tak ada yang kupendam
Kanda kadang sungguh sok tau
Kanda:
Di ibu kota janganlah lugu
Nanti senanglah para pencuri
Aduhai Dinda apa salahku
Beri teranglah si bingung hati
Dinda:
Bukan buatan senang pencuri
Bertemu perantau nan lugu hati
Bukan merajuk bukan baganyi (2)
Sungguh tak tahan sakitnya gigi 😂😂
Lubuk Basung, 31 Januari 2016
Ummu Fatiha
Catatan kaki:
(1) membangkit batang kayu yang terendam; membawa perubahan ke arah yang lebih baik
(2) baganyi; merajuk; ngambek
31/01/2016, 20:47 - benny humusta: Mbak Mega, Naura dan Ust Ali apa sibuk dengan acara hari libur ? 🍪🍇💧⭐🍏🍧🐓☕🐪🐑🐏🍍🍐👍
31/01/2016, 21:37 - KA-Mega Silvia: Uni nie mungkin bisa bantu jelasin mambangkik batang tarandam itu maksudnya apa, lagi speechless 😅
31/01/2016, 22:03 - benny humusta: Terima kasih Mega 👍👍👍👍👍👍
Tema merajuknya racak bana ⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
Taraso minangnya
Asli bak rendang padang..
Gurih dan pedas yang sedap menjadi satu 🍇🍉🍉🌙🌙🌙🍰🍰🍪🍪🍇🍇🐑🐑🐪🐪🐓🐓🐏🐏🍧🍧🍐🍐🍏🍍🍍☕💧
Pwrlu latihan untuk bisa berpantun seperti Mega 🍏🍏🍏🌙🌙⭐⭐🍇🍇🐑🐑🐪🐪🐓🐓🍍🍍🍐🍐☕☕🍧🍧💧💧🍧🍧🍧
Mambangkik batang tarandam adalah sebuah pepatah. Secara harfiahnya untuk menggambarkan sebuah usaha untuk mengembalikan kejayaan/ kemulyaan yang mungkin sempat terkubur.
BalasHapusBiasanya ini berkaitan dengan kondisi perekonomian / kedudukan dalam masyarakat yang sempat jatuh karena sesuatu dan lain hal.
Pepatah ini berasal dari kebiasaan masyarakat ranah Minang dalam membangun rumah gadang. Biasanya kayu yang akan dipakai untuk membangun rumah itu adalah kayu pilihan dengan usia kayu yang mencukupi. Bentuk rumah gadang yang tinggi menjulang sangat memungkinkan kayu2nya terpapar panas matahari atau tertimpa hujan sehingga rawan lapuk dan dimakan rayap. Maka merendamnya di dalam air sebelum dipakai untuk membangun rumah adalah sebuah strategi alami untuk membuat kayu itu kuat dan tidak keropos.
Membenamkannya di dalam lumpur/ air dalam bahasa Minangkabau disebut dengan Marandam batang kayu.
Mengangkatnya ke permukaan setelah waktu perendaman yang cukup disebut dengan Mambangkik.
Pepatah ini menggambarkan bahwa sekalipun berasal dari orang mulia dan atau terpandang, jika tidak mengalami tempaan hidup maka akan sulit untuk bertahan pada kemulyaan yang sudah ada.
Jadi usaha semacam pergi merantau adalah dalam rangka melatih mental anak-anak ranah agar kuat bertahan dalam gempuran hidup. Entah itu berasal dari keluarga terpandang atau memang dari keluarga melarat.
Kemampuan mereka menari dalam badai di perantauan itulah yang akan mengangkat kemulyaan/ kejayaan ketika mereka pulang ke kampung halaman.
Jika sekiranya tadi sudah mulya/ jaya maka nama kaumnya akan semakin terangkat, jika sekiranya tadi terhina/ rendah/ tidak dipandang maka hasil tempaan di perantauan itu akan membuat namanya dan nama kaumnya terangkat ke permukaan.
Itulah yang disebut dengan Mambangkik Batang Tarandam. Sebuah usaha untuk membuat nama kaum bersinar di dalam pergaulan hidup bermasyarakat.
Karena dalam kehidupan di ranah Minang, jika ia mulya akan ditanya anak siapa, siapa ninik mamaknya, apa sukunya. Begitu juga sebaliknya jika ia kurang beruntung.
Maaf Meg, baru sempat Uni ko haa..