Sabtu, 16 Januari 2016

Tampah

15/01/2016, 21:34 - Novie Menulis: Tampah

Benda bulat lebar terbuat dari bambu tipis yang dianyam.   Harganya biasanya berkisar antara 15 ribu sampai 35 ribu tergantung kualitas bambu dan kerapian anyaman serta lebar diameternya.  Semakin tebal dan tidak banyak serabut bambu semakin mahal tampah itu.

Setiap aku belanja di pasar krempyeng Rungkut, kulihat isi tampah bermacam macam.

Budhe Dewi memenuhi tampahnya dengan berbagai bumbu dapur, bawang merah, bawang putih, tomat, cabe dan segala dedaunan bumbu.

Mbah Sri meletakkan aneka macam pepes, ikan bakar dan ayam bakar di atas tampahnya, banyak orang mengelilinginya.

Mbak Marni menggelar tampah dan aneka cobek di atas tikar. Rupanya hari ini nelum ada pembeli yang mendatangi standnya.

Setelah puas belanja, ku tenteng empat ikat kangkung, sekilo ayam,  dua kresek krupuk dan jajan pasar kesukaan anak- anak. Kupulang ke rumah, menuju ke dapur dan segera ku tarik tampah yang mendekam dengan manis di lantai paling bawah rak piring.

Ku letakkan kangkung di atas tampah dan mulai memotongnya satu- satu.
Nyaman rasanya meletakkan sayuran yang akan di olah di atas tampah. Luas dan tidak kecer kemana- mana.

Kadang tampahku juga berubah jadi kapal- kapalan, Agha suka menaikinya.

Itu tampahku... Mana tampahmu?


Novie
Sby, 15 Jan '16

15/01/2016, 21:35 - Novie Menulis: Setor sensei, lagi kumat buntu ide... 😊😊
Tulisan hari ini pait pait sedaaap

15/01/2016, 21:36 - benny humusta: Yang mana yg pait2 sedap ?

15/01/2016, 21:36 - Novie Menulis: Selamat datang mbak Yenni... Semoga bisa berbagi ilmu di sini... 😊😊

15/01/2016, 21:37 - Novie Menulis: Ah sensei ini... Lagi buntu ide... Dan buntu hidung. Tulisannya agak tidak memuaskan, tapi tetap ku posting.
Maaf ya...

Rabu, 13 Januari 2016

Cita-cita yang Tak Tercapai

Berikut sarapan pagi dari saya semoga ada manfaatnnya ya 😃😃😃
21/12/2015, 05:22 - benny humusta: Cita-cita yang Tak Tercapai

Paling enak bertanya tentang cita-cita kepada anak di bawah dua belas tahun atau usia TK dan SD. Biasanya mereka menjawab banyak. Jarang yang hanya punya satu cita-cita.

Kalau usia SMP atau SMA mulai sedikit berkurang. Dan cita-cita yang disebutkan mulai mengarah ke suatu profesi yang diinginkan. Cukup banyak yang ingin meniru profesi orang tuanya kalau kebetulan orang tua mereka termasuk yang sukses secara finansial.

Yang cukup mengejutkan adalah level anak kuliah.  Di awal masih banyak yang bicara tentang profesi, yang sudah hampir selesai justru makin kecil cita-citanya.  Banyak sekali yang kehilangan arah dan menjawab dengan sedikit ragu seperti orang yang punya beban besar.  Cita-citanya adalah ingin cepat lulus dan mudah-mudahan cepat dapat kerja.

Kalau yang baru kerja ditanya cita-citanya, maka jawaban yang terbanyak ingin sekolah lagi S2 dengan harapan bisa pindah dan dapat gaji yang lebih besar. Yang sudah S2 atau sudah bekerja 3 tahun lebih baru bercita-cita ingin menikah, punya mobil sendiri dan rumah pribadi.

Bagi orang yang usianya sudah berada di sekitar 50 tahunan bervariasi jawabannya. Ada yang bilang sudah tidak punya cita-cita lagi, cukup jalani hidup apa adanya. Yang lebih agamis akan bilang mensyukuri saja apa yang Tuhan berikan, mengasuh anak-anak sampai dewasa dan bisa beribadah di hari tua.

Menariknya yang berusia mendekati 50 kalau ditanya cita-cita masa kecilnya biasanya agak malu-malu.  Sangat sedikit yang berani bilang terus terang ya saya berhasil mencapai cita-cita yang telah saya impikan sejak kecil. Atau sebaliknya sedikit sekali yang mau mengakui kegagalan mencapai cita-citanya.

 Sebagian besar merasa sudah agak sukses walaupun mungkin apa yang dicapai berbeda dengan apa yang dicita-citakannya.

Boleh saja kita mengganti cita-cita kita, asalkan memang ada yang benar-benar kita perjuangkan untuk meraihnya. Jangan sampai nanti kita selalu bikin alasan bahwa tidak ada cita-cita yang tercapai adalah takdir hidup semata.

Tuhan tidak pernah menghalangi cita-cita mahluknya. Bahkan cita-cita yang burukpun seperti cita-cita Iblis yang ingin menggoda manusia agar jadi temannya di neraka masih diberi kesempatan.

Jadi ketika kita gagal mencapai cita-cita, janganlah menyalahkan Tuhan. Allah selalu memberi kesempatan kepada setiap mahluknya untuk berprestasi sebaik mungkin. Boleh yang sesuai dengan perintahNya ataupun yang bertentangan dengan aturanNya.

Bedanya di hati nurani kita ada ruh yang selalu mengingatkan mana yang baik dan yang buruk. Setiap saat kita punya kesempatan untuk merubah arah kelakuan kita sebelum ajal datang menjemput.

Ketidak mampuan kita dalam mencapai cita-cita lebih sering karena kita tidak mampu memanfaatkan karunia yang telah Allah berikan. Kita kadang berdiam terlalu lama di confort zone, kita menunda apa yang harus dilakukan sampai habis semua kesempatan. Disaat itu banyak orang yang membela diri dengan mengatakan takdir yang membuat cita-citanya tidak tercapai.

Kalau saja kita mau belajar lebih banyak dari pengalaman orang lain, betapa banyak contoh dari orang yang sangat terbatas sumber daya yang dimilikinya tetapi dengan perjuangan yang lebih keras, kontinyu dan tidak berhenti di tengah jalan, maka mereka selalu jadi pemenang sejati. Mereka mampu berjuang meraih mimpi yang direncanakan dengan sepenuh hati.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11

Jakarta, 21 12 2015 Bintang

Ceker Ayam

Ceker ayam punya banyak arti
Jika harfiah artinya kaki jorok sekali
Jika tulisan berarti jelek sekali
Jika kontruksi berarti hemat tempat namun kuat sekali
Jika makanan berarti khas dimsum cina asli


Sepulang dari jalan-jalan tanpa alas kaki seperti ceker ayam,
Kubuat ulasan tentang jembatan dengan kontruksi ceker ayam
Kuselesaikan sambil menikmati semangkuk sop ceker ayam
Kuperhatikan tulisanku sulit dibaca mirip ceker ayam.

 A1, Bandung 12-11-15

Sabar .. selalu sabar untuk lebih baik lagi

Assalamu’alaikum wrwb.
Selamat pagi semuanya, semoga selalu dalam keadaan sehat dan sejahtera.

Sabar .. selalu sabar untuk lebih baik lagi

Untuk tumbuh menjadi sebatang pohon kayu jati yang bagus, sebuah tunas perlu melewati puluhan tahun. Kalau setiap tahun ada dua musim yaitu penghujan dan kemarau, maka proses pengulangan melalui pergantian musim harus dilaluinya puluhan atau ratusan kali. Semuanya tercermin dalam lingkaran kambium pohon jati. Setiap musim ditandai dengan satu lapisan kambium. Dari lapisan itulah bisa diukur umur dan kualitas kayu yang dihasilkannya.

Disaat musim kemarau, jati harus menggugurkan daun-daunnya untuk tetap bisa bertahan hidup. Tetapi ketika musim hujan datang, maka pucuk-pucuk daun baru yang hijau segera bermunculan, selanjutnya tumbuh ranting-ranting, dan pastinya batang utama akan juga semakin tinggi, semakin besar diameternya.

Begitu juga dalam proses kehidupan, kita harus melewati musim yang silih berganti, ada saatnya menulis sangat menyenangkan, ibarat pucuk-pucuk daun hijau yang berlomba untuk tumbuh. Setiap kata, setiap keadaan atau fenomena apapun saat itu bisa menjadi sumber inspirasi kita dalam berbuat baik. Malah kadang ada yang merasa waktu seakan tidak cukup untuk menuangkan semua ide yang ada. Itulah saat semangat sedang penuh untuk melakukan kebaikan.

Musim berganti, tiba-tiba entah apapun penyebabnya, kita bisa kehilangan selera berbuat baik. Mungkin kecewa karena kebaikan yang kita lakukan tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Mungkin kebaikan kita malah dibalas dengan keburukan yang tidak pernah kita sangka. Lantas kita mulai berfikir.. "Kok tega ya dia melakukan seperti itu, padahal saya kurang baik apa ya....". Sebagian mulai kehilangan rasa percaya diri. Benarkan menjadi orang baik itu mudah ? Itulah fase kemarau bagi seorang yang sudah mengikrarkan dirinya untuk menjadi orang baik.

Selalu ada dua pilihan saat itu, kita benarkan dan kita ikuti rasa kehilangan semangat, maka kita akan berhenti untuk menyebarkan kebaikan. Dan biasanya orang yang seperti ini sering ragu untuk memberikan kebaikan sekecil apapun, karena dia mengukur kebaikan dengan pengalaman dalam dirinya sendiri. Sangat malang kalau sampai kita kehilangan keberanian dan semangat untuk melakukan kebaikan berikutnya.

Cara yang terbaik ketika kita kehilangan semangat adalah tetap melakukan kebaikan sekecil apapun, jangan terlalu berharap dengan hasil yang mampu kita lihat. Ibaratkan kita menanam benih pohon dijalan yang tidak akan pernah kita lewati lagi.

Pohon jati yang mengalami musim kemarau. Mereka tidak memilih menjadi pohon yang mati. Mereka terus tumbuh saat daunnya berguguran. Kemana tumbuhnya ? akar-akar menancap ke bumi semakin dalam. mencari air sumber kehidupan dengan segala upaya. Kerja yang sangat keras, akar menembus tanah disaat kering kerontang. Tetapi kerja keras itu tidak sia-sia, jati tumbuh semakin kokoh.

Jati yang akarnya sudah menancap semakin dalam akan lebih siap dengan beban yang semakin besar. Takala musim hujan dimana beban yang dipikul semakin berat karena ada daun dan cabang-cabang baru, hujan dan angin yang menerpa dan menggoyangkan pohon dengan sangat kerasnya tidak membuat pohon jati rubuh dan tumbang. Akar yang tak terlihat oleh mata kita, sudah tumbuh dan mempersiapkan diri untuk ujian yang lebih hebat, akar selalu tumbuh baik disaat musim kemarau maupun musin hujan.

Musim demi musim berlalu, sebagian jati ada yang mati dalam perjalanannya, jadilah ia sebagai kayu bakar atau jati kelas rendah. Juga akan ada pohon jati pilihan, pohon jati yang terus bertahan dan tumbuh menjalani penghujan dan kemarau silih berganti, akhirnya menjadi kayu jati yang berkualitas tinggi. Sepeerti itu juga manusia dalam perjalanan hidupnya. Ia bisa memilih mati karena menyerah kalah kepada tantangan hidupnya, atau memilih mampu terus bertumbuh, menjadi orang yang lebih baik, yang sampai akhir nanti selalu ada manfaatnya.

Apapun musim yang sedang kita rasakan hari ini, yang terbaik adalah tetap berusaha melakukan kebaikan secara kontinyu. tak perlu orang lain tahu apa kebaikan yang kita semai. Jalani saja melanjutkan kebaikan sebelumnya. Keadaan baru yang Tuhan diberikan kadang terasa sulit dan tidak membangkitkan selera. Itulah bagian kemarau yang harus dijalani agar kita semakin kaya pengalamannya. Mampu menjaga persistensi kebaikan dengan suasana yang berbeda.

Sekali lagi saya sangat percaya teman-teman semua akan menjadi orang baik yang hebat. Maka jangan ragu, kita jalani pergantian musim, kemarau dan penghujan, semangat atau kurang semangat, setiap saat jagalah kualitas kebaikannya, selalu melakukan kebaikan yang bermanfaat untuk dunia akhirat.

Sabar... .. selalu sabar untuk terus berbuat baik lagi, banyak kebaikan yang bisa kita salurkan dengan semua anugrah Tuhan yang telah kita terima, Allah selalu melihat siapa yang bersungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan Sungguh pertolonganNya sangat dekat.

Jkt, 06 01 16 Humusta

Permainan

Permainan

Yang namanya permainan harusnya menyenangkan. Arena untuk bermain seharusnya penuh suasana gembira dan bahagia. Tetapi ternyata permainan juga bisa membuat orang lupa. Bisa membuat orang berubah. Penyebabnya karena para pemain mengubah tujuan.

Permainan yang seharusnya dilakukan dengan cara kesatria dalam menentukan pemenang tidak lagi diikuti. Bagaimanapun caranya yang penting adalah menang. Tidak peduli lagi apakah kemenangan diperoleh dengan kesatria atau dengan kecurangan.

Sekali kita memenangkan permainan dengan kecurangan, maka ibarat orang haus minum air garam, makin banyak minum akan makin bertambah hausnya. Jika kita memulai sebuah kecurangan maka  ada resiko akan ketagihan. Kita ingin mengulangi lagi kecurangan, kalau bisa dengan hasil yang lebih hebat.

Hidup kita juga sebenarnya adalah rangkaian permainan.  Kita pindah dari satu permainan ke permainan yang lain.  Malah kadang pada saat yang sama kita ada dalam beberapa permainan secara simultan. Mari kita coba introspeksi, mana yang lebih banyak kita jalani, permainan secara kesatria, atau kita sudah menjadi pemain curang kambuhan juga ?

Tuhan yang Maha Baik, selalu memberi kesempatan untuk mereset sistem permainan kehidupan kita. Namanya Pintu Taubat. Pintu taubat sebagai tombol reset, boleh dipakai kapan saja selama kita hidup, sebelum ajal atau kematian datang menjemput.

Boleh berkali-kali, asalkan dilakukan dengan kesungguhan hati. Jangan pura-pura taubat. Pura-pura taubat itu malah menjadi kecurangan tingkat tinggi, kita bukan lagi bermain curang dengan sesama manusia, tetapi mulai juga mau main curang kepada Tuhan kita. Padahal Tuhan kita Maha Hebat dan kita tidak akan mampu mencuranginya.

Allah ingin kita mampu mengakhiri kehidupan dengan cara kesatria, kita semua harus mampu menjadi seorang pemenang sejati, dan dengan kemenangan yang baik, jiwa kita menjadi tenang. Sehingga suatu saat nanti layak mendapatkan panggilan mesra dari Tuhan kita sebagi mana dijelaskan dibawah ini
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”

Jkt, 11 01 16 Humusta

Pembukaan Blog Belajar Menulis dengan Gembira dan Bahagia

Assalamu'alaikum WrWb.

Blog ini baru dibuka dan masih dalam tahap uji coba.
Jadi mohon dimaklumi jika isinya masih apa adanya

Rencana ke depan setiap postingan di WA juga akan diposting disini
ini sekedar test dahulu, dan silahkan memberikan komentar jika telah membaca pesan ini

Jakarta, 130116 Benny Bintang Humusta