Permainan
Yang namanya permainan harusnya menyenangkan. Arena untuk bermain seharusnya penuh suasana gembira dan bahagia. Tetapi ternyata permainan juga bisa membuat orang lupa. Bisa membuat orang berubah. Penyebabnya karena para pemain mengubah tujuan.
Permainan yang seharusnya dilakukan dengan cara kesatria dalam menentukan pemenang tidak lagi diikuti. Bagaimanapun caranya yang penting adalah menang. Tidak peduli lagi apakah kemenangan diperoleh dengan kesatria atau dengan kecurangan.
Sekali kita memenangkan permainan dengan kecurangan, maka ibarat orang haus minum air garam, makin banyak minum akan makin bertambah hausnya. Jika kita memulai sebuah kecurangan maka ada resiko akan ketagihan. Kita ingin mengulangi lagi kecurangan, kalau bisa dengan hasil yang lebih hebat.
Hidup kita juga sebenarnya adalah rangkaian permainan. Kita pindah dari satu permainan ke permainan yang lain. Malah kadang pada saat yang sama kita ada dalam beberapa permainan secara simultan. Mari kita coba introspeksi, mana yang lebih banyak kita jalani, permainan secara kesatria, atau kita sudah menjadi pemain curang kambuhan juga ?
Tuhan yang Maha Baik, selalu memberi kesempatan untuk mereset sistem permainan kehidupan kita. Namanya Pintu Taubat. Pintu taubat sebagai tombol reset, boleh dipakai kapan saja selama kita hidup, sebelum ajal atau kematian datang menjemput.
Boleh berkali-kali, asalkan dilakukan dengan kesungguhan hati. Jangan pura-pura taubat. Pura-pura taubat itu malah menjadi kecurangan tingkat tinggi, kita bukan lagi bermain curang dengan sesama manusia, tetapi mulai juga mau main curang kepada Tuhan kita. Padahal Tuhan kita Maha Hebat dan kita tidak akan mampu mencuranginya.
Allah ingin kita mampu mengakhiri kehidupan dengan cara kesatria, kita semua harus mampu menjadi seorang pemenang sejati, dan dengan kemenangan yang baik, jiwa kita menjadi tenang. Sehingga suatu saat nanti layak mendapatkan panggilan mesra dari Tuhan kita sebagi mana dijelaskan dibawah ini
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”
Jkt, 11 01 16 Humusta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar