Sigit bukan lulusan pesantren. Ia merasa wajar jika tidak paham bahasa Arab yang menjadi bahasa Al Quran kitab sucinya sebagai muslim. Belajar mulai dari TK sampai menjadi sarjana tidak membekalinya dasar bahasa Arab yang memadai. Kadang ia berpikir juga kenapa sekolah berlama-lama yang katanya untuk bekal hidup tapi tidak diajarkan pemahaman Al Quran yang menjadi pedoman hidup.
Keinginan Sigit untuk dekat dengan Al Quran terbuka ketika teman-teman kantor ikut dan membicarakan tentang grup One Day One Jus yang biasa disingkat ODOJ. Karena membaca satu juz Al Quran selama satu hari membutuhkan waktu yang lama akhirnya Sigit tidak jadi ikut grup ODOJ.
Kesempatan kedua mendekatkannya dengan Quran datang ketika temannya menawarkan ikut grup Komunitas Tadabbur Al Quran (KontaQ). Grup ini memang lebih ringan hanya membaca satu halaman Al Quran sehari. Awalnya Sigit dapat mengikutinya tetapi lama kelamaan ia sering menunda dan merasa tidak sempat lagi membaca sehalaman Al Quran sehari secara rutin. Akhirnya ia dikeluarkan dari grup karena sering tidak setoran.
Takut tidak kuat mengikuti grup menyebabkan lama sekali Sigit akhirnya mengikuti tawaran Sarah anaknya untuk ikut grup Hafidz On The Street (HOTS). Di grup ini satu hari menyetorkan satu ayat hafalan Quran. Terdengarnya ringan: seayat sehari, apalagi Ar Rohman adalah surat pertama yang dihafal. Pendek-pendek ayatnya.
Hari pertama ayat pertama hafalannya: Ar Rohman. Selesai. Hari kedua ayat kedua: 'allamal Quran. Selesai. Wah ringan sekali, sangat ringan. Setelah belasan hari materi hafalan masih tetap ringan. Yang dirasa berat oleh Sigit adalah beban kerja dari kantor. Karena sering pergi pagi dan pulang malam akhirnya beberapa hari Sigit tidak menyetorkan hafalan. Ia mengetahuinya karena admin grup HOTS mengingatkannya belum setoran beberapa hari.
Kelelahan kerja telah membunuh kemampuan Sigit mengerjakan yang lain. Ia sekarang jarang ikut pengajian di masjid, jarang berkumpul dengan tetangga di gangnya, bahkan jarang bercengkerama dengan keluarganya. Kesibukan kerja membuat setoran hafalannya tidak lancar.
"Gimana lancar hafalannya, Pa?" tanya Sarah anaknya yang lebih dulu ikut HOTS.
"Alhamdulillah, masih bisa setoran walau telat," jawab Sigit menyembunyikan ketidaklancarannya setoran.
"Kalau sibuk, ada yang lebih ringan lagi hafalannya," Sarah menimpali.
"Apa? Boleh nih," Sigit cepat menanggapi.
"ODOW. One Day One Word," jawab Sarah sambil senyum.
"Bercanda kamu," balas Sigit.
"Eh ada lagi Pa. Yang ini sih serius banget buat yang super sibuk seperti Papa," lanjut Sarah nampak serius
"Apa?" tanya Sigit jadi ikut serius.
"ODOF. One Day One Font." balas Sarah.
"What?" tanya Sigit lagi.
"SHSH," balas Sarah.
"Apa?"
"Satu Hari Satu Huruf."
Jleb, Sigit tertusuk hatinya.
Hairuk, Saleh, 21/11/2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar