Senin, 12 Desember 2016

Ade : *Ketua RT*

 *Ketua RT*

"Assalamu'alaikum ... dek ..., disuruh pulang sama Bapak," suara Mas Agus dari seberang telephon.

"Iya Mas, nanti aku ijin dulu sama Bu Dewi. Oh iya, tapi Mas jemput aku ya?!" Ujarku

"Iya, alamatnya di sms aja," jawab Mas.

"Nggih Mas, nanti aku sms. Udah dulu ya Mas. Assalamu'alaikum ...," kataku

"Iya, jaga kesehatan ... Wa'alaikumussalam warahmatullah ..," sahut Mas Agus.

Selang beberapa hari kemudian setelah mendapat ijin dari Bu Dewi, saudara jauh sekaligus Bosku di PT Penyaluran TKW di Bekasi, aku pun dijemput Mas Agus yang berada di Cisalak. Mas Agus adalah pedagang asongan.

Usai dijemput Mas Agus, aku mampir dulu di cisalak, aku menginap di kontrakan Mba Ningsih, kakak perempuanku yang juga ngontrak di sana, karena ikut suaminya yang bekerja di bengkel milik kakaknya di bogor. Sebenarnya malam itu juga aku dan Mas Agus sudah berniat langsung pulang ke cirebon, tapi Bis yang kami tunggu tidak datang hingga aku pun menginap di kontrakan Mba Ningsih.

"Gus, yang pulang siapa aja?" Tanya Mba pada Mas Agus.

"Cuma De Atun aja. Aku pulang juga sih Mba, tapikan gak nyoblos sudah beda wilayah," jawab Mas Agus.

"Nyoblos?" Tanyaku kaget campur penasaran

"Nyoblos pemilihan ketua RT de, Bapak suruh kamu pulangkan buat nyoblos hehehe" jawab Mas Agus sambil ketawa mengikik.

"Oh ...," aku menggaguk tanda mengerti, aku memang belum tahu dan tidak tanya sebelumnya kenapa aku disuruh pulang, ternyata suruh nyoblos. Sebenarnya Bapak menyuruh Mba Ningsih dan Mas Anton juga untuk pulang, tapi Mba Ningsih tidak bisa pulang karena tidak mendapat ijin suami, juga Mas Anton tidak pulang karena baru saja berangkat ke jakarta. Capek katanya kalo bolak-balik.

Usai ba'da subuh, aku dan Mas Agus pun berangkat menuju Cirebon dengan menaiki Bis jurusan Jakarta-Kuningan.

Sampailah kami di Cibogo daerah sebelum Kuningan. Kami menunggu Bapak yang memang sudah kami telepon untuk menjemput. Bapak pun datang aku pulang dengan Bapak, Mas Agus pulang baik ojek. Kami berpisah diperisimpangan, sekarang rumah Bapak dengan Mas Agus sudah berbeda semenjak Mas Agus menikah.

Bapak memberhentikan laju motornya, kami berhenti di depan sebuah rumah yang dikrumuni banyak warga, ternyata itu adalah rumah calon ketua RT pilihan kami. Bapak masuk rumah itu dan aku menunggu di depan, di samping motor. Lekas Bapak keluar, Bapak mengajaku pergi ke balai desa untuk mengisi formulir kata Bapak. Aku tidak mengerti sebetulnya, karena ini kali pertamanya aku ikut menyoblos untuk pemlihan umam. Usai isi formulir dan tanda tangan di balai desa, kami kembali lagi ke rumah calon RT pilihan kami. Entah apa yang dikerjakan Bapak di dalam, lama sekali ... kakiku sampai pegal menunggu di luar rumah.

Aku melirik tas ranselku yang berada menggantung di stir motor, ingin rasanya aku pulang duluan ke rumah, aku lelah sekali, tapi aku takut durhaka, tidak sopan pergi tanpa pamit.

"Ah ... rumit sekali ...," fikirku waktu itu.

"Bismillah ... ampun ya Allah, semoga Bapak tidak marah aku pulang duluan," aku pun bergegas pulang dengan berjalan kaki membawa tas ranselku yang tidak berat. Perjalanan menuju rumah tidak dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Aku biasa menempuhnya saat sekolah dulu.

Sesampainya di rumah.

"Assalamu'alaikum .... Bu..," aku salam takzim pada Ibu yang langsung menyapa di depan pintu.

"Sendirian?" Tanya Ibu

"Iya, Bapak masih di sana Bu," jawabku. Aku langsung menuju kamar beres-beres sebentar dan bersih-besih badan. Pegal dan penat akibat seharian di Bis sudah berangsur hilang.

"Bu, nanti aku nyoblos nomor berapa?" Tanyaku pada Ibu siang itu.

"No. 2 nduk ... Ini calon Ketua RT yang in syaa Allah bisa menjadi pemimpin yang bisa mengayomi. Orangnya arif dan bijaksana, sopan, sholeh dan mudah-mudahan bisa bertanggung jawab atas apa sudah diamanahkan untuknya,"

"Oh.. nggih Bu, sama Bapak deket ya Bu?" Tanyaku lagi.

"Iya, masih ada sodaraan sama Bapakmu. Kemaren itu tetangga sebelah mau dukunin katanya biar bisa kepilih, tapi Pak Alif sama sekali nda mau. Nah, pemimpin yang seperti ini yang harusnya dipilih. Jujur dan taat," jalas Ibu. Aku mengangguk tanda mengiyakan dan mengerti.

"Assalamu'alaikum ...," suara Bapak dari luar.

"Aduh ... pie iki? Bapak marah nda ya?" Fikirku waktu itu, karena aku pulang nda bilang-bilang, aku khawatir Bapak jadi nyariin.

"Atun ada Bu?" Suara Bapak makin dekat.

"Wa'alaikumussalam ada Pak ..," jawab Ibu.

"Alhamdulillah ... syukur kalo sudah nyampe rumah mah ... maafkan Bapak ya nduk .. tadi Bapak keasikan ngobrol, jadi lupa," tutur Bapak.

"Iya, nda apa-apa Pak," jawabku. Alhamdulillah lega rasanya.

Tiba saatnya pemilihan umam. bapak, Ibu dan aku pergi ke balai desa, bersama adik-adikku. Saat itu balai seperti disulap badai yang tadinya sepi berubah seperti pasar. Banyak orang lalu lalang dan banyak sekali para pedagang, dari jajanan, mie ayam, bakso, nasi belut, mainan anak-anak, ah .. pokoknya banyak dan rame ada penjual pakaian juga.

Aku berbaris di belakang Ibu, mengantri giliran untuk menyoblos.

"Bu .., Mba Ati telephon," kataku pada Ibu sesaat setelah menerima telephon dari Mba Ati, kakak pertamaku yang tinggal di bogor bersama suaminya.

"Iya," jawab Ibu sambil mengangkat telephon.

Tiba-tiba aku merasakan bau sesuatu, sepertinya Ibuku sedang berpuasa.

"Ini nduk ..," Ibu menyerahkan hpku. Aku menerimanya.

"Ibu lagi puasa?" Tanyaku

"Iya, yuk .. kita sambil terus berdo'a semoga Pak Alif yang terpilih," jawab Ibu.

Ma syaa Allah, sampai sebegitunya ibuku mendukung Pak Alif. Aku jadi penasaran bagaimana sosok yang dikatakan arif dan bijaksana itu. Dan akupun bershalwat kepada Nabi sepanjang menunggu giliran. Sambil berharap semoga do'a Ibu terkabul.

Tibalah giliranku. Aku melihat dua pasang suami-isteri duduk di kursi di atas panggung bak raja dan permaisurinya. Yang satu pasang kellibatannya adem sekali wajahnya teduh seperti diberi cahaya air wudhu. Aku mulai masuk ruang untuk menyoblos. Ada beberapa ruang di sana berupa beberapa kotak kecil, cukup untuk satu orang, dan aku masuk di salah satu kotak itu. Aku langsung tertuju pada no.2 Pak Alif. Dan iya benar saja. No. 2 itu adalah pasangan yang aku lihat wajahnya teduh tadi.

Ah ... acara yang cukup melelahkan, karena mengantri begitu lama. Kami pun sempat jalan-jalan di sekitar balai sekedar untuk membeli mie ayam dan pakaian. Usai itu kamipun pulang.

Aku pulang duluan bersama adik. Beberapa jam kemudian Bapak dan Ibu pulang membawa sebuah kabar tentang perolehan suara untuk pemilihan ketua RT ini.

"Sudah ada hasil perolehannya Pak?" Tanyaku

"Iya, Alhamdulillah ... Pak Alif menang," jawab Bapak sumringah.

"Alhamdulillah ....," jawab kami yang di rumah serempak.


Aku tidak tahu, apakah kepulanganku atau setidaknya suaraku dalam ikut menyoblos apakah ada manfaatnya, atau aku tak pulangpun hasilnya akan tetap lebih banyak Pak Alif, ah ... entahlah ... yang jelas aku bersyukur sudah bisa pulang dan melihat Ibu, Bapak dan adik-adik tersenyum.


Selesai.

Ade, Taiwan, 22 Nov 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar